Kontribusi Grup yang Pernah Bernama Raja Garuda Mas Terhadap Ekonomi Indonesia

Sejak didirikan dengan nama Raja Garuda Mas sampai sekarang, Royal Golden Eagle (RGE) selalu berupaya keras untuk memberi manfaat kepada bangsa Indonesia. Mereka sudah membuktikannya lewat beragam cara. Salah satunya kontribusi besarnya dalam segi perekonomian.

Royal Golden Eagle
Image Source: Asian Agri
http://www.asianagri.com/images/articles/penciptaan-nilai-bersama/ekspor-01.png

Royal Golden Eagle berdiri pada 1973 dengan nama awal Raja Garuda Mas. Mulanya mereka menekuni industri kayu lapis, namun seiring waktu, cakupan bisnis RGE semakin kompleks. Mereka akhirnya melebarkan sayap ke industri kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, viscofe fibre, dan energi. Belakangan, enam bidang terakhir inilah yang terus digeluti.

Berkat itu, Royal Golden Eagle berkembang menjadi korporasi kelas internasional. Hal itu ditandai dengan cabang maupun anak perusahaan yang tersebar di berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Tiongkok, Brasil, Kanada, dan Finlandia.

Bukan hanya itu, skala bisnis RGE ikut membesar. Aset grup yang berdiri dengan nama Raja Garuda Mas ini ditaksir mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat. Mereka pun mampu membuka lapangan kerja untuk sekitar 60 ribu orang karyawan.

Dari besar aset dan maupun kemampuan membuka lapangan kerja sejatinya kontribusi RGE kepada Indonesia sudah besar. Namun, jika ditelisik lebih lanjut ke dalam segi ekonomi saja, perannya semakin terlihat penting.

Hal itu terkuak dalam acara diskusi buku Menumbuhkembangkan Kemitraan Pertanian: Lesson Learned Model Kemitraan Petani Asian Agri yang diselenggarakan oleh Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). Dalam kegiatan yang digelar pada 30 Oktober 2017 itu, disoroti tentang peran kelapa sawit bagi petani dan perekonomian nasional.

Menurut penulis buku sekaligus Direktur Corporate Affairs Asian Agri M. Fadhil Hasan, sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia, kelapa sawit memiliki kontribusi besar dalam segi ekonomi. Peran kelapa sawit meliputi beberapa hal mulai dari ekspor dan kontribusi devisa, penyerapan tenaga kerja, pengentasan kemiskinan, memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri dan diolah menjadi produk-produk industri, pemerataan pembangunan ekonomi wilayah, dan sebagai pendapatan negara bukan pajak.

Ucapan Fadhil bisa diperkuat dengan sejumlah fakta. Misalnya terkait devisa. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian 2013, industri kelapa sawit telah menyumbang 1,6% Gross Domestic Product (GDP) nasional. Industri kelapa sawit Indonesia juga berkontribusi sebesar 11% atau 20 miliar dolar dari total ekspor.

Namun, seiring waktu, kontribusi sektor kelapa sawit terus bertambah. Pada 2016 contohnya. Minyak kelapa sawit menjadi komoditas ekspor terbesar kedua di Indonesia. Tercatat, pada tahun tersebut, ekspornya mencapai 14,36 miliar dolar Amerika Serikat.

Produk hasil kelapa sawit Indonesia akhirnya menjadi penyumbang 10% dari total ekspor Indonesia pada tahun 2016. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding ekspor minyak bumi dan gas alam yang masing-masing berkontribusi sebesar 3% dan 5% dari total nilai ekspor nasional dalam kurun waktu yang sama.

Selain dari segi devisa, kontribusi sektor kelapa sawit juga terasa dalam segi penyediaan lapangan kerja. Diperkirakan industri kelapa sawit di Indonesia telah menyerap lebih dari enam juta tenaga kerja. Dari jumlah itu, lebih dari setengahnya terlibat langsung dalam perkebunan sehingga mampu menggerakkan perekonomian nasional.

Bukan hanya itu, per tahun dibutuhkan 5.000 sampai 6.000 tenaga kerja di sektor kelapa sawit di seluruh Indonesia. Ini berarti peluang kerja yang disediakan industri kelapa sawit selalu konsisten.

“Dari data Badan Pusat Statistik, ada sekitar 4 juta tenaga kerja yang terserap di sektor kelapa sawit.  Tentu saja hal ini berperan penting dalam pengentasan kemiskinan,” tambah Fadhil.

PELUANG PADA MASA DEPAN

Royal Golden Eagle
Image Source: Asian Agri
http://www.asianagri.com/images/articles/penciptaan-nilai-bersama/ekspor-01.png

Sejauh ini, terlihat jelas bahwa peran sektor kelapa sawit bagi perekomian bangsa Indonesia sudah besar. Namun, pada masa depan, jumlah itu akan semakin bertambah. Hal ini disebabkan oleh peningkatan pasar yang diprediksi akan terjadi.

Diproyeksi, dalam jangka waktu tiga tahun mendatang, tepatnya pada tahun 2020, kebutuhan minyak nabati global bakal menembus jumlah lebih dari 236 juta ton. Prediksi ini dikeluarkan dalam Oilworld Outlook Conference 2015 di Hamburg, Jerman.

Hal itu memang sejalan dengan tren yang terjadi. Konsumsi global minyak kelapa sawit pada 1997 naik dari 17,7 juta ton menjadi 52,1 juta ton pada 2012. Kondisi ini menjadikan minyak kelapa sawit sebagai minyak yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia.

Indonesia merupakan pemain penting dalam industri kelapa sawit global. Negeri kita adalah penghasil produk minyak kelapa sawit terbesar. Perbandingannya seperti ini: Produksi minyak kelapa sawit dunia mencapai 78 juta ton. Jumlah itu dihasilkan dari dua produsen utama yaitu Indonesia sebanyak 42 juta ton dan Malaysia yang memproduksi 23 juta ton. Sisanya adalah dari negara-negara lain.

Melihat fakta bahwa Indonesia merupakan pemain utama dalam industri kelapa sawit dunia, Asian Agri tentu berperan di baliknya. Anak perusahaan Royal Golden Eagle ini jelas berkontribusi dalam pencapaian tersebut.

Sebagai perusahaan, Asian Agri memiliki peran dalam memutar roda perekonomian. Banyak lapangan kerja yang mereka buka. Ini membuat putra-putri Indonesia bisa berkarya bersama anak perusahaan grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas tersebut.

Selain itu, ada dampak lain yang dirasakan oleh masyarakat. Banyak petani yang meraih kesejahteraan setelah mendapat dukungan dari Asian Agri. Untuk memenuhi kebutuhan produksinya, unit bisnis RGE ini memang tak ragu menjalin kerja sama dengan petani baik dalam sistem plasma inti maupun independen.

Asian Agri rajin membimbing maupun mendampingi para petani kelapa sawit. Pendampingan dilakukan sejak masa pembibitan, perawatan, proses panen, hingga memasuki masa replanting yang merupakan periode rawan bagi petani.

Bukan hanya itu, unit operasional Royal Golden Eagle itu juga telah berkomitmen dalam membina kelompok tani selama puluhan tahun. Langkah ini berimbang baik terhadap kesejahteraan para petani. Kini, kelompok tani yang berada di bawah binaan Asian Agri telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Salah satunya dibuktikan dengan pendapatan rata-rata petani yang berada diatas Upah Minimum Regional provinsi.

Kesejahteraan petani tentu menggerakkan roda perekonomian. Ditambah kontribusi lain seperti pembukaan lapangan kerja secara tak langsung ataupun kehadiran industri lain yang menjadi pendukung, peran Asian Agri dalam ekonomi Indonesia tentu tidak bisa disepelekan.

Hal ini memang yang menjadi harapan pendirinya, Sukanto Tanoto. Chairman Royal Golden Eagle itu memang memiliki arahan khusus agar semua pihak di perusahaannya bisa memberi manfaat kepada pihak lain. Ia menyebutnya sebagai filosofi bisnis 5C.

Di dalam prinsip kerja tersebut, semua pihak di grup yang berdiri dengan nama Raja Garuda Mas tersebut diwajibkan untuk berguna. Selain  kepada internal perusahaan, mereka harus  bermanfaat bagi pelanggan, masyarakat, negara, hingga aktif menjaga iklim.

Leave a reply "Kontribusi Grup yang Pernah Bernama Raja Garuda Mas Terhadap Ekonomi Indonesia"