RAPP Riau Siapkan Firefighter Untuk Antisipasi Musim Kemarau

RAPP RiauImages source: APRIL

Kebakaran lahan dan hutan menjadi perhatian serius RAPP Riau. Maka, ketika ada potensi akan terjadi, mereka segera bersiap untuk mengantisipasinya. Inilah yang dilakukan oleh PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) saat wilayah Provinsi Riau mulai memasuki musim kemarau.

PT RAPP merupakan unit operasional APRIL Group. Mereka dikenal sebagai salah satu produsen pulp & kertas terkemuka di Asia. Hal itu ditandai dengan kapasitas produksi yang tinggi. Per tahun, APRIL sanggup memproduksi pulp hingga 2,8 juta ton dan kertas mencapai 850 ribu ton.

Selama ini proses produksi diserahkan APRIL ke RAPP Riau. Mereka menjalankan semua pekerjaan mulai dari mengelola perkebunan hingga mengolahnya hingga menjadi pulp dan kertas. Akibatnya, sehari-hari kebun seluas 476 ribu hektare yang ditanami pohon akasia dirawat oleh RAPP. Dalam pelaksanaan, PT RAPP akhirnya menjalin kerja sama dengan 40 mitra pemasok jangka panjang.

Sama seperti induknya, APRIL, PT Riau Andalan Pulp & Paper merupakan bagian dari grup Royal Golden Eagle. Oleh sebab itu, mereka dituntut untuk selalu berusaha menjaga kelestarian alam. Pasalnya, ada filosofi bisnis yang harus dijalankan oleh segenap pihak di RGE termasuk RAPP Riau.

Dalam arahan yang dikenal sebagai prinsip 5C tersebut terkandung salah satu poin penting untuk perlindungan alam. Semua pihak di RGE diwajibkan untuk bertindak aktif dalam menjaga keseimbangan iklim.

Kebakaran hutan merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kelestarian lingkungan. Maka, begitu ada potensi kehadirannya, semua pihak di PT RAPP mengambil langkah antisipatif.

Hal ini dilakukan secara nyata oleh RAPP. Dengan basis utama di Provinsi Riau tepatnya di Pangkalan Kerinci yang ada di Kabupaten Pelalawan, mereka tahu ada ancaman besar api akan berkobar ketika musim kemarau tiba.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru memaparkan bahwa pada Februari dan Maret 2018, Riau sudah memasuki musim kemarau periode pertama pada 2018. Masa itu dinilai sebagai momen rawan yang berpotensi menghadirkan kebakaran.

Analis BMKG Pekanbaru, Sanya Gautami menyatakan bahwa cuaca di Riau secara umum berbeda dengan sejumlah daerah di Pulau Jawa yang mengalami peningkatan curah hujan pada kurun waktu tersebut. Di Riau justru kekeringan mulai muncul. “Pengurangan curah hujan sudah terjadi. Kondisi serupa diprediksi akan terjadi hingga Maret,” katanya seperti dilaporkan oleh iNews.com.

Tren musim kering dikatakan oleh Sanya mulai terjadi sejak Januari lalu. Itu akan terus muncul Menurut dia, pengurangan curah hujan sudah terjadi sejak akhir Januari. Kondisi itu akan berlangsung sampai Maret.

Sebagai bukti nyata adalah penurunan jumlah hujan hingga 50 persen. Pada Januari 2018, rata-rata curah hujan di Riau mencapai 100-200 milimeter. Namun, memasuki pekan pertama Februari ini, curah hujan hanya tinggal 50 mm.

Selain itu, kehadiran cuaca panas juga menjadi indikasi kehadiran musim kemarau di Riau. Kalau tidak diantisipasi, hal itu akan menyebabkan kemunculan titik-titik panas. Inilah yang bisa memicu kebakaran lahan dan hutan yang sungguh merusak.

Oleh sebab itu, PT Riau Andalan Pulp & Paper mulai bersiap-siap. Mereka langsung menyiagakan 30 tim pemadam kebakaran (firefighter), untuk menjaga 30 estate kebun hutan tanaman industri yang ada di wilayah konsesinya.

Langkah itu sudah dilakukan oleh RAPP sejak Februari ketika musim kering mulai hadir di Riau. Menurut Asisten Kepala Fire Operational RAPP, Sulaiman, pihaknya langsung menerjukan tim ke lapangan sebagai tindakan antisipatif.

“Sekarang sudah musim kemarau, dan tim siaga kami sudah terjun ke lapangan. Mereka memakai tenda standar militer dan masing-masing tim 5 orang dilengkapi alat pemadam beserta pompanya,” kata Sulaiman kepada Bisnis.com. 

MELIBATKAN MASYARAKAT

RAPP Riau  Images source: APRIL

Cuaca di Riau sedikit berbeda dengan daerah lain di Indonesia seperti di Pulau Jawa. Di kawasan lain pada Februari hingga Maret biasanya ada peningkatan curah hujan. Tapi di Riau justru musim kering sudah hadir. Musim penghujan baru akan dialami lagi antara Maret hingga April.

Kondisi alam seperti itu meningkatkan risiko kebakaran lahan dan hutan. Sebab, cuaca sangat panas dan angin bertiup kencang. Ini sering membuat pohon-pohon mengering dan bergesekan sehingga memicu kehadiran api. Kerap kali itulah yang memicu terjadinya kebakaran.

Oleh sebab itu, RAPP Riau menerjunkan tim yang langsung melakukan pengawasan di lapangan. Mereka berpatroli untuk memantau kondisi. Untuk mempermudah pekerjaan, PT RAPP juga menyiapkan sarana pengawasan berupa drone atau pesawat tanpa awak. Alat tersebut mereka siagakan di masing-masing estate kebun.

Drone akan sangat membantu karena mampu menembus area-area yang sukar dijangkau. Tim RAPP Riau hanya perlu menerbangkannya untuk mengawasi perkebunan. Begitu terlihat ada titik api, maka tim firefighter segera bergerak untuk memadamkannya.

Jika ditotal, saat ini jumlah anggota tim firefighter milik RAPP mencapai 1.080 orang. Mereka semua bersiaga untuk mengantisipasi ancaman kebakaran. Selain itu, tim firefighter tersebut juga dibekali dengan peralatan memadai dan kemampuan memadamkan api. Alhasil, mereka dapat diandalkan untuk merespons kebakaran yang mungkin terjadi.

Selain mempersiapkan tim firefighter sendiri, PT Riau Andalan Pulp & Paper juga menjalin kerja sama dengan masyarakat. Mereka melibatkan Masyarakat Peduli Api yang ada di 52 desa di sekitar area operasionalnya.

Masyarakat dilibatkan untuk mengawasi daerahnya masing-masing dari ancaman kebakaran. Sebagai imbal balik, ketika terjadi kebakaran, tim firefighter dari RAPP yang akan bergerak memadamkannya.

“Untuk lahan masyarakat ini, kami siap memadamkan sampai radius 3 kilometer dari konsesi perusahaan. Itu sudah komitmen kami,” ujar Sulaiman.

Langkah antisipatif musim kemarau yang diambil oleh PT RAPP sejalan dengan hal yang dilakukan oleh pemerintah. Mereka juga mengantisipasi kehadiran musim kering agar tidak memicu kebakaran di wilayah Provinsi Riau.

kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Riau Edwar Sanger mengatakan pemerintah daerah bakal segera menetapkan status daerah siaga kebakaran lahan dan hutan. Hal itu perlu dilakukan agar semua pihak siap siaga mengantisipasi ancaman kebakaran.

“Kami akan segera menetapkan status siaga kebakaran lahan dan hutan. Kami juga sudah mengikuti pengarahan pengendalian api dari Presiden Joko Widodo secara langsung. Kegiatan itu diikuti gubernur yang daerahnya rawan kebakaran,” kata Edwar di Bisnis.com.

Kebakaran lahan dan hutan menjadi perhatian serius karena beragam alasan. Pertama adalah tingkat kerugian yang ditimbulkan amat tinggi. Kejadian pada 2015 bisa menjadi gambaran. Kala itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan kerugian yang diderita mencapai Rp221 triliun. Jumlah itu di luar perhitungan dari segi kesehatan, pendidikan, plasma nutfah, emisi karbon dan lainnya.

Selain itu, kerusakan yang dibuat juga begitu besar. Hutan bisa langsung sirna begitu dilalap api. Ketika ini terjadi, nilai kerusakannya tidak bisa ditaksir dengan materi.

Hal-hal seperti ini seharusnya tidak terjadi lagi. Oleh karena itu, RAPP Riau menyiagakan tim firefighter secara penuh ketika musim kemarau tiba. Mereka bersiap untuk mengantisipasi ancaman kebakaran yang mungkin terjadi.

Image Source: APRIL

Advertisements

Leave a reply "RAPP Riau Siapkan Firefighter Untuk Antisipasi Musim Kemarau"