Sukanto Tanoto Banting Setir Menjadi Pengusaha Handal

No comment 86 views
Image Source: RGE
http://www.rgei.com/about/our-leadership/sukanto-tanoto

Masa kecil sering disebut sebagai masa terindah. Saat itu, kita bebas bermimpi tentang apa pun. Membayangkan apa jadinya diri kita sendiri setelah besar nanti juga mengasyikkan. Itu pula yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto sebelum banting setir menjadi pengusaha papan atas.

Di dunia bisnis Indonesia, Sukanto Tanoto termasuk nama yang disegani. Ia merupakan pendiri sekaligus petinggi korporasi berskala internasional Royal Golden Eagle. Julukan sebagai Raja Sumber Daya menggambarkan kapasitas Sukanto Tanoto sebagai seorang pengusaha andal.

Namun, menarik sekali untuk menelaah kisah hidup Sukanto Tanoto. Perjalanan kehidupannya sungguh berwarna dan layak dijadikan teladan. Lihat saja, meski kini seorang pengusaha papan atas, Sukanto Tanoto bukan berasal dari keluarga berada. Ia malah hanya anak seorang pemilik toko kecil.

Sukanto Tanoto lahir di Belawan pada 25 Desember 1949. Ayahnya adalah seorang imigran dari Tiongkok. Ia memiliki sebuah usaha kecil berupa toko yang berjualan minyak, bensin, dan onderdil mobil di Medan.

Saat kecil, Sukanto Tanoto mirip seperti anak kecil lainnya. Ia bahkan tergolong “bandel”. Kegemarannya waktu itu adalah bermain-main menghabiskan waktu di laut seharian.

Kegiatan tersebut dilakukannya sampai tak mengenal waktu. Akibatnya ibunya sering memarahinya. “Saya kenyang makan rotan waktu itu,” ucap Sukanto Tanoto menggambarkan hukuman yang diterimanya dari sang ibu karena lalai.

Seperti anak lainnya, Sukanto Tanoto memiliki cita-cita yang besar. Ternyata ia tidak bermimpi menjadi pengusaha seperti sekarang. Jauh dari itu, Sukanto Tanoto justru berharap dirinya bisa menjadi dokter.

Maka, dengan yakin, ia membayangkan dirinya pasti akan bekerja mengobati orang sakit jika bisa berkuliah. “Kalau dulu saya meneruskan ke fakultas kedokteran, saya pasti akan jadi dokter,” ujarnya.

Akan tetapi, Sukanto Tanoto mesti mengubur impiannya untuk bekerja di bidang medis. Pada 1966, sekolahnya terpaksa ditutup karena terjadi pemberontakan G30S PKI. Ia harus berhenti sekolah.

Sialnya Sukanto Tanoto tidak bisa melanjutkan sekolah lagi ke sekolan negeri. Pasalnya, ayahnya kala itu masih berstatus sebagai warga negara asing. Musnah sudah harapan Sukanto Tanoto.

Malang tak dapat dihindari, tak lama berselang sang ayah malah jatuh sakit. Kejadian itu terjadi ketika ia masih berumur 18 tahun. Sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, Sukanto Tanoto segera mendapat tanggung jawab besar. Ia harus rela memupus impian sekolah untuk mengelola usaha keluarga. Semua dilakukannya semata demi menyambung hidup keluarganya.

BELAJAR OTODIDAK

Mimpi Sukanto Tanoto masa kecil memang sirna. Namun, hidup harus berlanjut. Ia tidak mau menyesalinya berlama-lama. Mengutuk keadaan tidak ada gunanya karena justru dapat menghambatnya untuk berkembang. Sadar tidak bisa melanjutkan sekolah lagi, Sukanto Tanoto akhirnya memilih untuk belajar otodidak.

Putus sekolah tidak dijadikannya alasan untuk berhenti belajar. Menurut Sukanto Tanoto, apa pun dalam kehidupan dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperkaya pengetahuan.

Ia mempraktikannya dengan baik. Salah satunya tentang kemampuannya berbahasa Inggris. Sukanto Tanoto tidak mendapatkannya dari pendidikan formal. Ia dapat menguasainya karena belajar sendiri dengan modal sebuah kamus bahasa Inggris Mandarin yang dimilikinya.

Selain itu, Sukanto Tanoto senang sekali membaca. Bacaan apa pun dilahapnya. Pada masa kecil, ia senang sekali membaca kisah-kisah tentang Perang Dunia. Ia pun antusias melahap buku-buku tentang biografi orang-orang besar.

Hingga saat ini pun kebiasaan membaca terus dilanjutkan Sukanto Tanoto. Di tengah kesibukannya, ia selalu berupaya bisa membaca. Triknya ternyata unik. Ia melakukannya kala tengah melakukan perjalanan bisnis. “Ketika itu, kalau tidak membaca, saya akan tidur,” ucap Sukanto Tanoto.

Kemauan keras untuk belajar akhirnya membuka jalan kesuksesan baginya. Pelajaran bisnis yang didapat Sukanto Tanoto tidak dari sekolah resmi. Ia mendapatkannya secara otodidak berdasar pengalaman dan terjun langsung.

Lihat saja, suatu saat Sukanto Tanoto mendapat kesempatan untuk membuka usaha pribadi pertamanya di bidang supplier perminyakan dan general contractor. Kala itu ia harus membangun rumah hingga lapangan golf. Selain itu, ia juga mesti memasang pipa-pipa hingga AC. Bahkan, Sukanto Tanoto juga harus mendatangkan traktor.

Dari semua pekerjaaan itu tidak ada yang dikuasainya sebelumnya. Lingkup kerja dan kesulitannya jauh berbeda dari kesehariannya sebagai pedagang minyak dan onderdil mobil. Namun, Sukanto Tanoto segera mengambil kesempatan yang ada. Tidak terbersit ketakutan sedikit pun bahwa dirinya akan gagal nanti. “Jelas saja saya menerimanya karena masih muda,” ucap suami Tinah Bingei Tanoto ini.

Benar saja, Sukanto Tanoto menjadikannya sebagai sarana belajar. Ia tak malu bertanya ke pihak yang lebih tahu tentang apa pun. Bahkan, kepada pegawainya yang paham seluk-beluk AC, Sukanto Tanoto tidak merasa canggung untuk belajar dari mereka. “Jika tidak tahu, saya akan tanya,” katanya.

Pola pikir seperti itu kian membuat usahanya maju. Akibatnya naluri bisnis Sukanto Tanoto muncul. Intuisinya sebagai pengusaha andal mulai terbentuk hingga akhirnya mampu mendirikan Royal Golden Eagle. “Itulah ‘sekolah teknik’ bagi dari saya,” kisahnya tentang usaha general contractor dan suplier yang pernah digelutinya.

BERKEMBANG MENJADI PEBISNIS NASIONAL

Pengusaha dituntut untuk bisa berpikir panjang jauh ke depan. Sukanto Tanoto pun demikian. Ketika menekuni bisnis supplier perminyakan dan general contractor, kliennya hanya terbatas. Ia khawatir jika kondisi kliennya memburuk, bisnisnya juga akan berantakan.

Sukanto Tanoto makin merasa gusar karena sudah memiliki banyak karyawan. Sebagai bosnya, ia merasa bertanggung jawab atas masa depan anak buahnya. Dia takut jika suatu saat nanti usahanya akan menurun.

Maka, Sukanto Tanoto segera memutar otak. Ia pun akhirnya menemukan celah yang belum digarap oleh pihak lain, yakni bisnis kayu lapis. Sukanto Tanoto segera mendirikan pabriknya ketika orang lain belum memulainya.

Alasannya sederhana. Ia menilai ada sebuah kondisi yang tidak pas yang terjadi di Indonesia. Saat itu, orang harus mengimpor kayu lapis dari luar negeri seperti Singapura. Padahal, negeri kita beriklim tropis dengan lahan begitu luas. Seharusnya pohon bisa ditanam untuk menjadi bahan baku kayu lapis.

Itulah yang menjadikannya berani bergerak. Ia melakukannya tanpa takut. Meski tidak punya pengalaman sama sekali, Sukanto justru menjadikan petualangannya mengelola bisnis baru seperti kayu lapis sebagai sarana belajar.

Hal serupa akhirnya terus ia lakukan di berbagai bidang bisnis lain bersama Royal Golden Eagle. Tengok saja, sesudah kayu lapis, area usaha yang digelutinya tidak ada yang sama seperti pulp and paper, kelapa sawit, energi, maupun serat viscose. Lagi-lagi semua dipandang oleh Sukanto Tanoto sebagai sarana belajar.

Ketika sudah menjadi pengusaha andal, Sukanto Tanoto melakukan langkah menarik lain. Ia malah meneruskan obsesinya untuk sekolah yang tidak sempat dirasakannya secara formal pada masa muda. Caranya ia selalu rutin mengikuti kursus singkat maupun mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Namun, berbeda dengan impiannya pada masa kecil, Sukanto Tanoto lebih memilih memperdalam ilmu bisnisnya, bukan lagi bidang kedokteran.

Advertisements

Leave a reply "Sukanto Tanoto Banting Setir Menjadi Pengusaha Handal"